ARTIKEL TIK
ARTIKEL
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE DEBAT
A. Latar Belakang
Revolusi teknologi, khususnya komputer dan internet, saat ini telah mengubah cara pandang dan berpikir pada masyarakat dunia. Kini orang makin berpikir praktis dan efektif. Begitu juga di bidang pendidikan. Kini kita berada di era teknologi informasi dan komunikasi, dimana kecepatan penyampaian dan menangkap suatu informasi menjadi sangat penting dalam rangka memajukan pendidikan. Pada era masyarakat yang dinamis ini, kita perlu melakukan langkah persiapan secara optimal. Kita sudah berada di sekitar teknologi mobile, serba nir–kabel, semua menuntut multimedialitas. Siap atau tidak pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT) harus dimulai dari sekarang.
Pendayagunaan TIK di sekolah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk media berbasis ICT dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bersamaan dengan itu, pada generasi e–learning ini, kesadaran masyarakat terhadap pembelajaran menggunakan TIK akan semakin besar. Saat ini jugalah waktu yang tepat untuk merangsang masyarakat agar menggunakan teknologi dalam upaya pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu, perlu terus ditumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih memberi perhatian pada peningkatan kuantitas dan kualitas media pembelajaran berbasis ICT dan pemanfaatannya.
Di Indonesia, pendidikan telah memasuki era baru. Suatu upaya mengubah paradigma pendidikan di Indonesia tengah bergulir. Salah satu faktor yang akan menjadi sarana penggerak perubahan adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Berbeda dengan paradigma lama yang memandang peserta didik sebagai objek, maka dengan paradigma baru siswa dan guru sama-sama bertindak sebagai subjek. Pembelajaran menggunakan TIK, menjadikan sumber ilmu pengetahuan menjadi tidak terbatas. Setiap siswa dapat aktif mencari sumber ilmu pengetahuan lain selain guru dan buku.
Implementasi TIK di dunia pendidikan telah menjadi perhatian dunia internasional. World Summit on The Information Society (WSIS) yang diprakarsai International Telecommunication Union (ITU), membuat standar TIK pendidikan, untuk diterapkan selambat-lambatnya tahun 2015. Standar tersebut antara lain, 50 persen lembaga pendidikan serta pusat studi dan penelitian telah terhubung dengan TIK, sedangkan tingkat e-literacy masyarakat sekurang-kurangnya 50 persen. Kondisi Pendidikan Nasional Sebagaimana diketahui bahwa Pendidikan Nasional masih memiliki kendala, antara lain adalah masih rendahnya pemerataan dan akses pendidikan, masih rendahnya mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, dan masih lemahnya tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik. Untuk itu Departemen Pendidikan Nasional telah merumuskan tiga pilar kebijakan pembangunan pendidikan, yaitu: (1) Peningkatan pemerataan dan perluasan akses pendidikan (2) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, dan (3) Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pengelolaan pendidikan.
Penggunaan ICT harus dilakukan sebijak mungkin agar ICT dapat membantu pendidikan baik dari segi akses, peningkatan mutu maupun tata kelola pendidikan. Definisi Teknologi Pendidikan Sebelum kita membahas tentang peran teknologi pendidikan dalam peningkatan akses, mutu dan relevansi pendidikan, ada baiknya disajikan dulu tentang definisi teknologi pendidikan/pembelajaran.
B. Tujuan
Penulisan artikel ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode debat.
C. Tinjauan Pustaka
Keterampilan Berbicara
Berbicara merupakan kepandaian manusia untuk mengeluarkan suara dan menyampaikan pendapat dari pikirannya. Berbicara merupakan kemampuan mengucapkan suatu bunyi artikulasi (kata-kata) untuk menyampaikan, mengekspresikan atau menyatakan suatu gagasan, pikiran juga perasaan. Kalau ditilik secara lebih luas, berbicara itu dapat dikatakan sebagai suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar juga dapat dilihat yang memanfaatkan sistem motorik tubuh serta beberapa jumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi terlaksananya maksud dan tujuan dari gagasan atau ide yang ada didalam otak yang dikombinasikan sehingga bisa terucap. Lebih jauh lagi, berbicara dapat diartikan menjadi suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat yang paling penting bagi kontrol bersosial manusia.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan resetif, apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan berbicara yang merupakan proses penyampaian pesan secara langsung yang berfungsi menyampaikan informasi kepada orang lain sehingga orang yang mendengar dapat memahami informasi yang disampaikan.
Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasalisan.Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain. Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak, atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi, dua-duanya tidak terpisahkan.
Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara, sedangkan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak.Sebagai mana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun taka akan berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi. Dengan demikian keterampilan menyimak dan berbicara sangat penting dalam proses belajar mengajar.
Pengertian Debat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003 : 242) debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Menurut Dori Wuwur dalam bukunya Retorika (1991:120) debat adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Menurut Kamdhi (1995:24-26) debat adalah suatu pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu pokok masalah dimana masing-masing peserta memberikan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.
Menurut (KBBI. 2002: 242), Debat adalah pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Menurut G. Sukadi, Debat pada hakekatnya saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan. Menurut Hendri Guntur Tarigan (Retorika 1990:120), Debat pada hakekatnya adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan satu pihak.
Pengertian debat dalam www/wikimedia.foundation.org/, Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan. Contoh lain debat yang diselenggarakan secara formal adalah debat antar kandidat legislatif dan debat antar calon presiden/wakil presiden yang umum dilakukan menjelang pemilihan umum.
Unsur-Unsur Debat
a) Topik debat disebut mosi (motion)
b) Tim afirmatif (yang setuju terhadap mosi) sering disebut juga pemerintah (government),
c) Tim negatif (yang menentang mosi) disebut oposisi (opposition)
d) Pembicara pertama dipanggil sebagai perdana menteri (prime minister), dan sebagainya
e) Pemimpin/wasit debat (chairperson) dipanggil speaker of the house
f) Penonton/juri dipanggil members of the house(sidang dewan yang terhormat)
Macam-Macam Debat
a) Debat Amerika
Dalam debat Amerika dua regu berhadapan, tetapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan secara teliti. Dan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota kelompok debat ini adalah orang-orang yang terlatih dalam seni berbicara. Mereka berdebat di depan sekelompok juri dan publikum. Debat dimulai, apabila salah seorang anggota regu membuka pembicaraan dengan membuka tesis dan di jawab oleh pembicara pertama dari regu yang kedua. Proses selanjutnya berlangsung apabila setiap anggota regu berbicara dalam urutan yang bergantian dengan anggota regu yang lainnya. Semua anggota dari kedua regu mendapat kesempatan untuk berbicara. Setipa pembicara harus menyampaikan pandangannya mengenai tema dan tesis yang diperdebatkan.
b) Debat Kompetitif
Debat kompetitif adalah debat dalam bentuk permainan yang biasa dilakukan di tingkat sekolah dan universitas. Dalam hal ini, debat dilakukan sebagai pertandingan dengan aturan (“format”) yang jelas dan ketat antara dua pihak yang masing-masing mendukung dan menentang sebuah pernyataan. Debat disaksikan oleh satu atau beberapa orang juri yang ditunjuk untuk menentukan pemenang dari sebuah debat. Pemenang dari debat kompetitif adalah tim yang berhasil menunjukkan pengetahuan dan kemampuan debat yang lebih baik.
c) Debat Perlementer
Debat parlementer dibagi menjadi tiga yaitu:
1) Debat perlementer Australia (Australian Parliamentary). Gaya debat ini digunakan di Australia, namun pengaruhnya menyebar hingga ke kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Asia, sehingga akhirnya disebut sebagai format Australasian Parliamentary. Dalam format ini, dua tim beranggotakan masing-masing tiga orang berhadapan dalam satu debat, satu tim mewakili Pemerintah (Government) dan satu tim mewakili Oposisi (Opposition). Di Indonesia, format ini termasuk yang pertama kali dikenal sehingga cukup populer terutama di kalangan universitas. Kompetisi debat di Indonesia yang menggunakan format ini adalah Java Overland Varsities English Debate(JOVED) dan Indonesian Varsity English Debate (IVED).
2) Debat perlementer Inggris (British Parliamentary). Gaya debat parlementer ini banyak dipakai di Inggris namun juga populer di banyak negara. Dalam format ini, empat tim beranggotakan masing-masing dua orang bertarung dalam satu debat, dua tim mewakili Pemerintah (Government) dan dua lainnya Oposisi (Opposition).
3) Debat perlementer Amerika. Debat parlementer Amerik Serikat diikuti oleh dua tim untuk setiap debatnya
d) Debat Proposal
Dalam gaya Debat Proposal (Policy Debate), dua tim menjadi penganjur dan penentang sebuah rencana yang berhubungan dengan topik debat yang diberikan. Topik yang diberikan umumnya mengenai perubahan kebijakan yang diinginkan dari pemerintah. Kedua tim biasanya memainkan peran Afirmatif (mendukung proposal) dan Negatif (menentang proposal). Pada prakteknya, kebanyakan acara debat tipe ini hanya memiliki satu topik yang sama yang berlaku selama setahun penuh atau selama jangka waktu lainnya yang sudah ditetapkan. Bila dibandingkan dengan debat parlementer, debat proposal lebih mengandalkan pada hasil riset atas fakta-fakta pendukung (evidence). Debat ini juga memiliki persepsi yang lebih luas mengenai argumen. Misalnya, sebuah proposal alternatif (counterplan) yang membuat proposal utama menjadi tidak diperlukan dapat menjadi sebuah argumen dalam debat ini. Walaupun retorika juga penting dan ikut mempengaruhi nilai setiap pembicara, pemenang tiap babak umumnya didasari atas siapa yang telah “memenangkan” argumen sesuai dengan fakta pendukung dan logika yang diberikan.
e) Debat Lincoln-Douglas
Nama gaya debat ini diambil dari debat-debat terkenal yang pernah dilakukan di Senat Amerika Serikat antara kedua kandidat Lincoln dan Douglas. Setiap debat gaya ini diikuti oleh dua pedebat yang bertarung satu sama lain. Argumen dalam debat ini terpusat pada filosofi dan nilai-nilai abstrak, sehingga sering disebut sebagai debat nilai (value debate). Debat LD kurang menekankan pada fakta pendukung (evidence) dan lebih mengutamakan logika dan penjelasan. Di Indonesia, format debat ini belum populer dan belum ada kompetisi reguler.
Etiket atau Norma dalam Berdebat dan Bertanya
Menurut Mulgrave (1954: 45) sepeti yang dikutip Tarigan (1984:92-93) semua pembicaraan hendaknya memiliki:
a) Pengetahuan yang sempurna mengenai pokok pembicaraan
b) Kopetensi atau kemampuan menganalisis
c) Pengertian mengenai prinsip-prinsip argumentasi
d) Apresiasi terhadap kebenaran-kebenaran fakta
e) Kecakapan menemukan buah pikiran yang keliru dengan penalaran
f) Keterampilan dalam pembuktian kesalahan
g) Pertimbangan dan persuasi
h) Keterarahan, kelancaran, dan kekuatan dalam cara atau penyapaian pidato.
Model Pembelajaran Debat
Pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan, pola pikir siswa harus mulai dibangun membentuk karakter yang kritis dan cepat tanggap terhadap permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Biasanya, ketika siswa diajak memecahkan suatu kasus permasalahan yang menuntut sebuah keputusan untuk diambil, akan terbagi menjadi 3 buah kubu. Siswa kubu pendukung suatu keputusan (biasanya disebut kelompok Pro), siswa kubu penolak (kelompok Kontra), dan kubu netral yang mengambil sikap “cari aman” dengan tidak memilih pihak manapun. Dengan pembelajaran metode debat, siswa dibentuk menjadi hanya dua jenis kelompok yaitu Pro dan Kontra. Berikut ini adalah langkah-langkah debat yang biasanya diterapkan di kelas dalam lingkup sekolah menengah atas:
Guru membagi siswa menjadi dua kelompok peserta debat, yang satu pro dan yang lainnya kontra. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan diperdebatkan oleh kedua kelompok di atas. Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian setelah selesai ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
Sementara siswa menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan sampai mendapatkan sejumlah ide yang diharapkan. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkapkan. Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai. Dengan adanya acuan teknis diatas, dapat dilihat bahwa model debat mengadopsi gabungan dari beberapa metode pembelajaran seperti Diskusi, Ceramah, dan Pembelajaran Kooperatif.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Debat
Beberapa kelebihan dari model pembelajaran debat diantaranya adalah:
a) Memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan.
b) Melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah diberikan.
c) Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
Selain itu juga terdapat kekurangan dalam model pembelajaran debat, diantaranya adalah:
a) Ketika menyampaikan pendapat saling berebut.
b) Terjadi debat kusir yang tak kunjung selesai bila guru tidak menengahi.
c) Siswa yang pandai berargumen akan slalu aktif tapi yang kurang pandai berargumen hanya diam dan pasif.
d) Menghabiskan banyak waktu untuk melakukan sesi debat antar kelompok.
e) Perlunya tema yang mudah dipahami oleh siswa.
f) Tema haruslah dapat diperdebatkan.
g) Perataan siswa dalam kelompok terkadang tidak heterogen.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TIK dalam pembelajaran debat
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMP
Mata Pelajaran : Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kelas/Semester : VII/1
Standar Kompetensi :
1. Memahami penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dan prospeknya di masa mendatang
Kompetensi Dasar:
1.1 Mengidentifikasi berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi
Indikator :
Memahami penggunaantelegraf, telepon bergerak, komputer dan internet, dan peranan masing-masing dalam menyampaikan informasi.
Alokasi Waktu : 6 jam pelajaran (3x pertemuan)
1. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu mengidentifikasi berbagai peralatan teknologi komunikasi
Siswa memahami karakteristik dasar dan penggunaan teknologi telekomunikasi
Siswa mengenal berbagai jenis komputer dan penggunaannya sebagai sebuah perangkat TIK
Siswa mengenal internet sebagai sebuah perangkat TIK
2. Materi Pembelajaran
Telegraf
Telepon
Faksmile
Televisi
Radio
Telepon bergerak
Komputer
Internet
3. Metode Pembelajaran
Model pembelajaran : Pembelajaran langsung
Metode : diskusi kelompok, debat, game
4. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Kegiatan Pendahuluan
1) Guru menanyakan siapa yang pernah menggunakan TIK tertentu (misalnya siapa yang pernah menggunakan peralatan telegraf)
2) Siapa yang tahu bagaimana sebuah peralatan TIK bekerja.
Kegaiatan Inti
1) Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengetahuan awal peserta didik melalui pertanyaan atau tanya jawab tentang peralatan TIK.
2) Guru mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah peralatan TIK yang ada.
3) Masing-masing siswa dalam kelompok diundi untuk mendapatkan satu buah peralatan TIK yang harus dipelajari.
4) Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk mediskusikan peralatan TIK yang menjadi tanggung jawab mereka.
5) Masing-masing kelompok diberi nilai 100.
6) Secara berurutan setiap kelompok melempar pertanyaan seputar peralatan TIK tertentu ke kelompok tertentu.
7) Jika pertanyaan tidak dapat dijawab, maka kelompok tersebut harus menyerahkan nilainya 10. Jika pertanyaan dapat dijawab, maka sipenanya harus menyerahkan nilainya 10.
8)Kelompok dengan nilai nol atau minus tidak boleh lagi bertanya.
9)Kelompok dengan nilai terbanyak adalah pemenang.
10)Guru bertanggung jawab untuk menjawab jika ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab.
Kegiatan Penutup
1) Guru memandu untuk pengambilan kesimpulan.
2)Guru memberikan pengembangan konsep.
3) Guru membimbing siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran.
4) Guru memberikan penghargaan pada kelompok terbaik.
5)Guru memberikan tugasSetiap siswa harus membuat kliping dari media cetak seputar peralatan TIK yang terbaru, teknologi apa yang digunakan dan apa kelebihanya.
Pertemuan Kedua
Kegaiatan pendahuluan
1) Guru mengulangi peralatan TIK yang sudah pernah ada.
2) Guru bertanya, apa peralatan yang masih digunakan dan dikembangkan dan apa peralatan TIK yang tidak digunakan lagi.
Kegiatan inti
1) Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang peralatan terbaru.
2) Menggali pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang peralatan-peralatan terbaru.
3) Masing-masing siswa diminta menceritakan sebuah teknologi dari klipping yang sudah dibuat secara bergiliran. Point yang harus ditekankan adalah, kegunaan peralatan, teknologi baru yang digunakan, dan manfaatatau kelebihannya dari peralatan yang sudah ada.
4) Guru memberi komentar terhadap peralatan TIK yang diceritakan oleh siswa.
Kegiatan Penutup
1) Guru bersama peserta didik melakukan diskusi kelas untuk menarik kesimpulan tentang peralatan TIK.
2) Guru memberikan pengembangan konsep.
3) Guru membimbing siswa untuk merangkum hasil pembelajaran.
Pertemuan Ketiga
Kegiatan Pendahuluan
1) Guru bertanya apa peralatan TIK yang paling berjasa pada manusia.
2) Guru bertanya apa peralatan TIK yang paling banyak digunakan saat ini.
Kegiatan Inti
1) Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengalaman dan pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang penggunaan TIK sehari-hari.
2) Guru membagi siswa dalam dua kelompok.
3) Masing-masing kelompok melakukan debat seputar topik berikut ini:
a.Peralatan TIK paling mudah digunakan
Peralatan TIK yang paling murah
Peralatan TIK yang palingbanyak penggunanya.
Peralatan TIK yang mempunyai selang waktu paling lama digunakan.
4) Guru mengambil simpulan
Kegiatan Penutup
1) Guru bersama peserta didik melakukan diskusi kelas dan mengambil simpulan.
2) Guru memberikan pengembangan konsep.
3) Guru membimbing peserta didik merangkum hasil pembelajaran
Sumber Belajar
Buku Teknologi Informasi dan Komunikasi jilid I untuk Kelas VII, Henry Pandia, Penerbit Erlangga, Jakarta 2007.
Penilaian Hasil Belajar
1) Teknik penilaian :
a) tes tertulis
b) keaktifan saat diskusi dan debat
2) Bentuk instrumen :
a) pilihan ganda (PG)
b) isisan singkat (esai)
c) daftar penilaian diskusi/debat
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Mata Pelajaran : Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kelas/Semester : VII/1
Kompetensi Dasar:
1.2 Mendeskripsikan sejarah perkembangan tekologi informasi dan komunikasi dari masa lalu sampai sekarang.
Indikator:
1. Menceritakan perkembangan teknologi komunikasi, telegraf, telepon, radio, televisi, dan komputer, memahami pengaruh kemajuan TIK terhadap cara manusia berkomunikasi.
Alokasi Waktu : 4 jam pelajaran (2 x pertemuan)
Tujuan Pembelajaran
Siswa mengetahui berbagai cara komunikasi pada jaman prasejarah.
Siswa memahami perkembangan sejarah komputer dan hal-hal yang mempengaruhinya.
Materi pembelajaran sejarah teknologi komunikasi pada zaman permulaan, sejarah telegraf, telepon, radio, televisi dan komputer.
Metode Pembelajaran
Model pembelajaran : pembelajaran langsung
Pembelajaran kooperatif
Metode diskusi kelompok
Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Kegiatan pendahuluan
1) guru bertanya, siapakah penemu peralatan TIK tertentu
2) guru bertanya, siapakh orang paling berjasa dalam dunia TIK
Kegiatan Inti
1) Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengetahuan awal peserta didik melalui pertanyaan atau tanya jawab tentang sejarah perkembanganTIK.
2) guru mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok dan diundi untuik mendapatkan sebuah nama tokoh TIK
3) Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk mempelajari dn mendiskusikan tokoh mereka.
4) kelompok melakukan debat untuk mempertahankan tokohnya sebagai orang paling berjasa dalam dunia TIK
5) guru mengarahkan debat
Kegiatan Penutup
1) guru memandu untuk pengambilan kesimpulan untuk keseluruhan diskusi dan debat yang sudah dilakukan
2) guru memberikan pengembangan konsep
3) guru membimbing siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran
4) guru memberikan penghargaan pada kelompok terbaik
5) guru memberikan tugas : masing-masing siswa menulis surat untuk tokoh TIK yang mereka kagumi
D. Analisis dan Pembahasan
Teknologi pendidikan/teknologi pembelajaran adalah suatu disiplin/bidang (field of study). Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah (1) untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran; dan (2) untuk meningkatkan kinerja. Teknologi pendidikan/pembelajaran menggunakan pendekatan system (pendekatan yang holistik/ komprehensif, bukan pendekatan yang bersifat parsial). Kawasan teknologi pendidikan dapat meliputi kegiatan analisis, desain, pengembangan, pemanfaatan,pengelolaan, implementasi dan evaluasi baik proses-proses maupun sumbersumber belajar. Yang dimaksud dengan teknologi dalam teknologi pendidikan adalah teknologi dalam arti luas, bukan hanya teknologi fisik (hardtech), tapi juga teknologi lunak (softtech). Perlu diingat bahwa semua teknologi ini tidak mempunyai fleksibelitas dari segi waktu, tempat, dan kecepatan. Untuk mengikuti konferensi teleaudio dan konferensi video, para peserta harus berada di tempat tertentu pada waktu yang telah ditetapkan. Sementara itu, untuk mengikuti siaran TV dan radio, peserta harus siap pada waktu tertentu dan tempat-tempat yang memang dapat menangkap siaran TV dan radio tersebut.
Pusat Sumber Belajar (PSB) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) / Instructional Center Technology (ICT) based Learning Resource Center (LRC) merupakan wahana yang memberikan fasilitas atau kemudahan proses belajar pada pengguna (guru dan siswa), untuk suatu unit dalam suatu lembaga (khususnya sekolah) yang berperan mendorong efektifitas serta optimalisasi proses pembelajaran melalui penyelenggaraan berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan pembelajaran. PSB berbasis TIK menyediakan layanan antara lain berupa: Informasi tentang berbagai kebijakan, program dan kegiatan di bidang peningkatan mutu pendidikan substansi berupa: bahan ajar, bahan ujian, info aktual, artikel, dan lain-lain yang berkaitan dengan pembelajaran. Ide-ide untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pengembangan bahan ajar inovasi pembelajaran seluruh mata pelajaran Muatan aplikasi Pusat Sumber Belajar TIK antara lain:
Chatting :
ruang diskusi umum secara real time yang dapat melibatkan user untuk berbagai macam matapelajaran.
Forum diskusi (umum) :
ruang yang berisi diskusi antar user baik secara real time /sinkronus maupun asinkronus. Ini cocok untuk membahsa materi yang sifatnya agak umum.
Forum konsultasi (per topik mata pelajaran) :
ruang yang berisi diskusi para guru secara sinkronus maupun asinkronus tentang topik tertentu pada mata pelajaran mata pelajaran tetentu.
Artikel room :
ruang yang berisi artikel-artikel yang telah upload baik oleh pengelola maupun user.
Search :
pencarian topik dan file yang diperlukan sesuai kebutuhan user dan dapat dicari di dalam atau di luar web PSB.
Data storage :
memuat attachment file dari berbagai macam data pendukung yang di attach oleh user maupun moderator per mata pelajaran Tambahan Pendidikan telah memasuki era baru, termasuk di Indonesia. Suatu upaya mengubah paradigma pendidikan di Indonesia tengah bergulir. Salah satu faktor yang akan menjadi sarana penggerak perubahan adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di lingkup sekolah dibutuhkan berbagai variasi teknik yang harus dikuasai oleh seorang guru agar proses belajar yang tercipta di kelas menjadi lebih dinamis dan bernuansa interaktif. Selain itu, variasi teknik yang digunakan juga harus dapat membantu siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dalam fase remaja sesuai dengan pedoman psikologi individu. Beberapa diantara tugas perkembangan tersebut menjadi landasan terciptanya metode pembelajaran kooperatif yang mengedepankan kerja sama dari para peserta didik sehingga tercipta nuansa kelas yang dinamis, interaktif, dan dapat menjadi faktor stimulan agar peserta didik dapat mengembangkan pola pikir yang kritis.
Hingga saat ini, terdapat berbagai macam model yang digunakan dari turunan metode pembelajaran tipe kooperatif. Salah satu dari model yang berkembang dan sering digunakan pada kegiatan belajar mengajar adalah debat. Debat digunakan pendidik dalam upaya menumbuhkembangkan pola pikir kritis dan kemampuan kerja sama antar peserta didik dalam bentuk kelompok. Perkembangan model pembelajaran debat saat ini masih barlangsung, bahkan model ini diterapkan hingga menjadi jenis kompetisi antar pelajar hingga tingkat dunia. Oleh karena itu, penulis mencoba membahas model pembelajaran debat.
Berbeda dengan paradigma lama yang memandang peserta didik sebagai objek, maka dengan paradigma baru siswa dan guru sama-sama bertindak sebagai subjek. Pembelajaran menggunakan TIK, menjadikan sumber ilmu pengetahuan menjadi tidak terbatas. Teknologi Pendidikan/ pembelajaran sebagai sebuah disiplin/bidang (field of study), yang memiliki tujuan utama (1) untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran; dan (2) untuk meningkatkan kinerja dan mutu pendidikan, perlu terus dikembangkan mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan demikian teknologi pendidikan tetap dapat diaplikasikan guna memecahkan masalah pendidikan.
5. Simpulan dan Rekomendasi
Simpulan
Pembentukan pola pikir kritis dan kerja sama antar kelompok dapat lebih ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran debat di kelas. Kelebihan model ini lebih banyak mengeksplorasi kemampuan siswa dari segi intelektual dan emosi siswa dalam kelompok kerjanya, sehingga pembentukan kerja sama antarsiswa, pola pikir kritis, dan pemahaman etika dalam berpendapat dapat diperoleh dalam pembelajaran di kelas. Namun disamping berbagai kelebihan yang diberikan oleh model pembelajaran debat ini, ada beberapa kekurangan yang memerlukan peran dari seorang guru untuk mereduksinya. Oleh karena itu, tidak semua materi pelajaran di kelas cocok menggunakan metode debat karena tema harus dipilih sedemikian rupa sehingga debat yang terjadi dapat menimbulkan interaksi positif di dalam kelas dan menarik untuk siswa yang melaksanakannya.
Rekomendasi
Pembelajaran bahasa dalam keterampilan berbicara melalui metode debat dengan bantuan komputer ini, dapat direkomendasikan bagi para guru bahasa. Hal tersebut untuk mengembangkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di lingkup sekolah, berbagai variasi teknik pun harus dikuasai oleh seorang guru agar proses belajar yang tercipta di kelas menjadi lebih dinamis dan bernuansa interaktif dan komunikatif. Sehingga mampu mengemabangkan motivasi dan minat siswa terhadap TIK.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Dipodjojo, Asdi.1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: PD. Lukman
Dori Wuwur, Henrikus. 1991. Retorika. Yogyakarta : Kanisius
Hartoyo, Ph.D. 2012.Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pembelajaran Bahasa. Semarang: Pelita Insani
http://id.wikipedia.org/wiki/Berbicara. Diunduh pada hari Jumat tanggal 30 Januari 2015, pukul 20: 45
Kamdhi, JS. 1995. Diskusi Yang Efektif. Cirebon : Kanisius
KKK.1970.Taktik Berdebat.Jakarta : K.m./CLC
Pandia, Henry. 2007. Teknologi Informasi dan Komunikasi jilid I untuk Kelas VII, Jakarta: Penerbit Erlangga
Tarigan, Henry Guntur.1984. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung : Angkasa
Widodo, Rachmad. (2009). Metode Pembelajaran Debate (Debat). (Online, alamat:http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/06/model-pembelajaran-debate-debat/,diakses: 29 Januari 2015).
Yuanita, Eva. (2010). Model Pembelajaran Debat. (Online, alamat:http://rhum4hnd3soq.blogspot.com/2010/10/model-pembelajaran-debat-dan-word.html, diakses: 29 Januari 2015).
Komentar
Posting Komentar