Fitrah Ayah Bunda

16 Februari 2017 oleh Hanni



FITRAH AYAH BUNDA
Oleh-oleh KOPDAR PERDANA
Hebat Community ACEH
bersama ust. Adriano Rusfi

Disusun kembali oleh:
Bunda Khazanatul Khairat
20 Januari 2017



🔹🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔹🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔹🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹




Fitrah ayahbunda itu minimal ada tiga :

1. Fitrah sebagai manusia biasa yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi dan sebagainya. 

Jadi, dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayah bunda juga manusia, bukan robot parenting. Nah, yang sering keliru kita pahami. Karena terlalu banyak menerima dan melahap ilmu parenting, kita beranggapan bahwa terlalu banyak yang perlu ditutupi di depan anak. Mulai dari pengucapan kata "jangan" pada anak, pamali menampakkan kekesalan hingga perdebatan ibu-ayah yang harus disembunyikan. (Nah loh... yang terakhir ini bikin penasaran bener. Emang boleh bertengkar depan anak? Bukankah itu akan menggoncang psykologisnya? Lagi2 itu saya dapatkan dari ilmu parenting dulu). 

Ustadz menjelaskan, coba bayangkan, apa yang akan terjadi bila anak dewasa dengan role model orang tua yang selalu harmonis? Dia tidak siap dengan keluarga barunya yang akan dibangun bila suatu saat ada perselisihan. Ia akan berfikir bila ia telah gagal membentuk keluarga bahagia. Emang bahagia itu tak pernah berbeda? Ust lalu melanjutkan. Pernah ada satu kejadian seorang anak yang mendorong guru dan teman-temannya dari atas tangga lantai dua sekolah hingga meluncur kelantai dasar. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak tanpa rasa bersalah. Nah ini cukup berbahaya. Bisa jadi psikopat dia. Secara syarat-syaratnya sudah terpenuhi. Dia itu ganteng, kurang rasa kasih sayang dan tidak punya rasa bersalah. Ya.... karena memang ustadz kita seorang psykolog, ditelisiklah sabab musabab pembentukan karakter ini anak. Ternyata oh ternyata... Si anak ini tidak pernah mendengar kata "jangan" dari orang tuanya. Orangtuanya hanya mengalihkan perhatiannya pada hal baru bila si anak sedang melakukan sesuatu yang seharusnya dilarang, tanpa perlu mengucapkan kata jangan. Lagi-lagi hal ini didapat dari ilmu parenting yang mereka pelajari.

Allah swt pun sering menuntun hambaNya dengan  kata-kata jangan. Seperti yang ternukil dalam Al-Quran. Ketika Lukman berkata: "Ya bunayya la tusyrik billah..." (Wahai anakku JANGANLAH engkau menyekutukan Allah...) Bukankah kata JANGAN itu jelas2 ditujukan untuk anak? Apakah mungkin seorang Lukmanul Hakim bisa salah mendidik anak? Seorang lelaki shalih nan bijak, sampai2 namanya pun diabadikan dalam kitab yang akan terus jadi pegangan sepanjang masa? Sebenarnya tidak ada yang salah dari ilmu parenting. Selama kita tidak menyerahkan sepenuhnya pada analisis akal dan menafikan bahasa kalbu. Karena kalbu setiap jiwa punya bahasanya sendiri. Kalo kata ustadz sih jangan sampai teori parenting yang kita pelajari melumpuhkan naluri, intuisi dan firasat parenting kita. 


"Minta fatwalah pada hatimu, karena kebajikan adalah apa-apa yang menenteramkan hati" (AlHadits). Mereka-mereka yang terbiasa dengan amalan nafilah (sunnah), maka Allah akan menjadi mata, telinga, tangan dan kaki, yang dengannya di melihat, mendengar, bekerja dan berjalan (dari Hadits Qudsi). 
Belakangan kita agak mengabaikan dan kurang mempertajam firasat. Padahal Rasulullah SAW bersabda : "Hati-hatilah dengan firasat mu'min. Sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah".
Parenting yang baik adalah parenting yang mampu meningkatkan kepercayaan diri para Ayah bunda untuk mendidik anak-anaknya sendiri berdasarkan fitrah pendidikan. Parenting yang buruk adalah parenting yang membuat Ayahunda tergantung kepada para mentor parenting dalam mendidik anak-anaknya.

Sangatlah manusiawi bila satu waktu kita terlihat lelah, letih, kesal dan marah di depan anak. Karena toh kita juga manusia. Supaya anak tidak terkejut dan siap mental ketika di luar menjumpai orang yang mempunyai karakter beragam. Dengan satu catatan tetap tidak berkata kasar, karena itu akan melukai ego dan kehormatannya. Sebagai Ayah bunda dengan segala kelemahannya, maka kita pasti akan melakukan sejumlah kesalahan dalam mendidik anak-anak kita. Namun, cinta dan ketulusan akan mengkoreksi segala kelemahan dan kesalahan tersebut. 
------------------ 

Tak terasa waktu shalat ashar pun tiba. Kami semua bubar sementara dengan wajah ceria dan penuh tanya. Ceria karena telah dapat harta karun tak bernilai harganya, dan bertanya-tanya kiranya kejutan apalagi yang bakalan disampaikan ustadz nanti ba'da ashar. Waktu jeda shalat dan saat antri berwudhu' pun kami manfaatkan untuk melanjutkan perkenalan. 

Subhanallah. Karunia Allah begitu luas. Saya yang membawa baby 9 bulan tentu kesulitan berwudhu dan melaksanakan shalat. Apalagi mushallanya terletak dilantai dua. Kuatir si baby merangkak menuju tangga. Secuil kasih sayang Allah swt turun menjelma empati dan kasih sayang tak berbatas dari teman-teman yang serasa saudara. Si baby berganti-gantian di tangan-tangan penuh kasih nan keibuan. Fabi aiy ala irabbikuma tukadz dziban..

Terimakasih banyak bunda-bunda semua. Setelah shalat pun saya masih bertukar cerita dengan bunda-bunda shaleha bunda Izzati Safitri dan bunda Mely Salmia. Ah... begitu banyak yang ingin kita bagi, namun ustadz sudah duluan ke bawah. Cus ah... ngikut lagi...
-------------------
Saya sambil jagain si baby nih yang sibuk ngincar bros cantik si bunda2 cantik dan ngubek2 tas yang ada pernak pernik yang juga cantik2.. Tangan dan mata saya ke arah anak tapi telinga ke arah ustadz. Tu liat....wanita itu emang multi tasking kan...? #eeaaakk. Okedeh fokus lagi. Ustadz dah mulai lagi ..


2. fitrah sebagai laki-laki dan perempuan, yang wujud dalam maskulinitas dan femininitas.

Sehingga, dalam pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai laki-laki dan perempuan. Kolaborasi maskulin-feminin inilah yang akan membentuk sifat empati yang rasional, penolakan yang santun dan memiliki ego yang juga penyayang. Kedua karakter itu memang harus hadir bersamaan. Kenapa demikian? Karena dalam menemani anak menemukan value kehidupan dan kebijaksanaan tidak cukup dengan feminim saja atau maskulin saja.

Seperi contoh kasus dikeluarga beliau sendiri. Pernah satu waktu, istri beliau lapor: "Bang, anak kita pecahin piring..." Saya berfikir, kalo saya pasti sudah saya beri peringatan tu anak. Tapi bentar, apa ya jawaban ustadz? "Saya bilang sama anak: nak piring kamu kan sudah pecah jadi sekarang kamu  tidak punya piring lagi". Anak ustadz ini tak kehabisan akal, ia memotong daun pisang membentuk lingkaran. Jadi sekarang dia punya banyak piring. Selama beberapa waktu dia makan dalam piring daun pisang. Istri ustadz lapor lagi: "Bang, dia gak kehilangan akal". "Ok. Mulai sekarang masaklah masakan berkuah". Si anak mulai kasak kusuk. Ya iyalah tu masakan bisa bikin lapar tapi dia cuma punya piring datar. Mana bisa makan...? Dengan ragu-ragu si anak datang lagi... "Abi, abang gak bisa makan karena gak ada piring...". "Beli pake uang kamu" ,jawab ustadz. Alhasil, dia mengumpulkan uang jajannya buat beli piring. Dan piringnya tidak pernah pecah lagi. Wow banget kan?

Ada lagi nih cerita ustadz dengan solusi yang tak kalah menarik... Di lain waktu istri ustadz lapor lagi: "Bang, anak kita tadi marah2 mukul2 pintu". "Oh, ok" jawab beliau. Apa tindakan beliau?  Menegur? Menasehati? Atau malah marah? Wah... ini emang senjata pamungkas kita ya untuk menutupi ketidakmampuan kita menangani anak yang sedang bertingkah. Tik tok tik tok....(saya menebak2 kira2 apa tindakan ustadz?) Oh tidak teman2... Beliau melanjutkan "saya buka engsel pintu sampai terlepas, sehingga dia tidak bisa memukul pintu lagi. Ketika tengah malam, dia tidak tahan digigit nyamuk dan membangunkan saya. Dia berjanji tidak akan memukul pintu lagi asal saya memasangnya kembali. Ya sudah, malam itu sambil terkantuk2 saya memasang engsel pintu kembali". Betapa pengajaran beliau begitu membekas. Tanpa perlu mengeluarkan banyak kata2 apalagi perang urat saraf.


3. Fitrah sebagai orangtua bagi anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak-anak.

Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola. "Tetap optimis, karena Allah telah menginstall parenting pada tiap fitrah ayahbunda." Bahkan pada tiap ayahbunda parenting yang diinstall pun berbeda-beda, karakter-karakter yang Allah lekatkan pada mereka, yang mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka.. Begitulah hebatnya ilmu Allah. Jika ditanyakan kepada saya "apa modal yang terbaik dalam parenting?", maka saya akan mengatakan modal terbaik dalam parenting adalah cinta dan ketulusan.

Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka. Namun, Allah tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita. Bashirah dalam hal apapun lahir dari totalitas, dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap segala hal yang akan kita tangani. 

Allah telah berjanji bahwa orang-orang yang total dan dedikatif dalam menangani segala hal, maka Allah akan menunjukkan banyak jalan baginya. Dan mereka mereka yang telah menjual dirinya kepada Allah, diantaranya melalui pendidikan bagi anak-anaknya, maka Allah akan menjadi penyantun baginya. Salah satu indikatornya adalah : jika hati kita tenteram untuk melaksanakan sesuatu terhadap anak-anak kita, walaupun itu bertentangan dengan sejumlah teori parenting, maka sesungguhnya ketentraman hati itu adalah pertanda dari bashirah Islamiyah. 

Bashirah Islamiyah itu bukan hanya menjadi hak prerogatif dari orang-orang yang memiliki tingkat keimanan tertentu saja, karena sesungguhnya Allah tidak pernah kikir memberikan ilham-ilhamNya kepada siapa saja. Bahkan ilham dari Allah Ia berikan terhadap orang kafir sekalipun. Makanya tak mengherankan jika kreasi iptek banyak Allah ilhamkan kepada orang-orang kafir. Jadi jangan pernah merasa tak cukup bertaqwa untuk bertanya pada hati. Allah tidak se selektif yang kita bayangkan. Kasih-sayangNya jauh melampaui angan-angan paling optimis kita. Jauhi hal-hal yang meragukan, lakukan hal-hal yang hati kita yakin. 

Yakin itu bermula dari ilmu yang melahirkan pemahaman. Jika sebuah ilmu justru melahirkan keraguan dan ketidakpercayaan diri, maka ilmu itu harus dijauhi. Ragu dan waswas itu datang dari syaithan. Obatnya adalah ilmu dan ta'awudz. Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita.
-------------
Sampai disini saya absen, ternyata kesabaran si baby ada batasnya sodara2... Kuatir meledak dimajlis ilmu mending saya keluar...

#16februari2017viawhatsappolehhanni




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Soal Mengenai Pemakaian Huruf dan Penulisan Kata

Indahnya Berbagi Kebaikan bersama Bento Ramadan HokBen

Me Time