Agustus dan Anak-anak/Keluarga #part 1
Lusa yang lalu adalah hari keberangkatan pakde dan budeku menuju tanah suci. Rumah mereka berlokasi di Jatibarang, Indramayu. Lumayan menempuh waktu delapan jam untuk sampai disana. Semua keluarga dari Bogor diundang, tapi sayang bertepatan dengan hari kerja jadi hanya berlima saja. Aku, ayahku, anakku, pakde, dan bude dari Bogor. Alhamdulillah masih bisa hadir.
Ada yang berbeda dari acara pelepasan calon jamaah haji. Jika biasanya hanya acara pengajian, selamatan, dan berakhir dengan pelepasan yang diantar oleh keluarga. Namun di Jatibarang berbeda, orang-orang kekinian berkata “seninya tuh disni” hehehe.... Betapa antusias, baru kali ini aku melihat prosesnya sangat menyenangkan.
Pertama, acara pengajian ibu-ibu hari sabtu.
Kedua, acara pengajian bapak-bapak hari minggu. Nah, pengajian di hari pertama dan kedua ini dihadiri warga sekitar.
Ketiga, hari senin acara ramah tamah dan silaturahim dengan sanak saudara (aku datang hari ini, jadi nggak sempat melihat acara pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak) suasananya ramai, seluruh keluarga datang dan saling bertukar makanan. Nantinya makanan tersebut disatukan untuk cemilan para pengantar calon jamaah haji.
Keempat, ini adalah moment yang paling ditunggu-tunggu yaituuuu.... mengantar pakde dan budeku untuk berangkat ke tanah suci. Sebelumnya, pagi-pagi seluruh keluarga dan para tetangga berkumpul di rumah. Mereka bergotong royong membersihkan pekarangan; menyiapkan snack atau cemilan para pengantar; menyiapkan oleh-oleh hasil bumi untuk para tamu yang datang dari jauh (termasuk aku nih, alhamdulillah ya dapat jatah, haha... ups) Oh ya sekadar intermezo, disana sedang musim buah mangga gedong gincu, setiap rumah ditanami pohon tersebut dan enaknya langsung petik, ya ampuuun melimpah kalau di kotaku sih pasti mahal; dan menyediakan jamuan untuk panitia penjemput untuk dibawa ke masjid. Aku senang karena jarang menemukan suasana seperti ini, terasa kekeluargaan dan persaudaraan disana.
Singkat cerita, acara yang dinanti pun datang juga. Pakde dan bude dijemput oleh panitia untuk dibawa ke masjid menghadiri acara pembekalan terakhir. Sebelum berangkat, ada wejangan dari kepala desa, ustadz, dan diakhiri dengan berdoa. Tak lupa payung leluhur (ini maksudnya payung estafet dari keluarga yang terakhir berhaji, kemudian dipakai kembali oleh calon jemaah haji berikutnya).
Pakde dan bude yang telah dipayungi berjalan beserta rombongan menuju masjid. Oh ya, Masjid Raya tempat berkumpul itu kebetulan sangat dekat, jadi cukup berjalan kaki. Kalau jamaah yang jaraknya cukup jauh mungkin memakai kendaraan.
Selama perjalanan suasana ceria, baru pertama kali aku melihat ada calon jemaah haji diiringi drum band. Irama musiknya seperti musik islami. Banyak sekali yang mengantar, mungkin satu kampung. Masya Allah, berkahnya orang yang mengantar pergi haji. Setelah sampai masjid, kami disuguhkan kembali dengan irama shalawat. Namun, disini sudah memakai rebana dan marawis. Shalawat menggema di dalam dan pelataran masjid. Indahnya....
This is surprise.....
Ini kejutannya....
Baru aku melihat mobil calon jamaah haji dihiasi bunga seperti mobil pernikahan. Masya Allah... benar-benar orang yang pergi haji disambut dengan suka cita. Begitu sakral sampai fasilitasnya pun dibuat nyaman melebihi orang menikah.
Aku terkejut, iring-iringan pengantar calon jamaah luar biasa panjang. Mungkin yang mengantarnya sekampung. Bayangkan ada yang memakai motor, mobil pribadi, mobil bak terbuka hanya ditutupi terpal dan tikar, sampai ada yang menyewa bus.
Kalian tahu???? Semua ikhlas mengantar tanpa dibayar, bahkan rela jauh-jauh dan kepanasan demi melihat calon jamaah pergi menuju tanah suci. Mereka mengatakan bahwa ingin mencari berkahnya, dengan mendengar ceritanya saja rasanya terhibur, siapa tahu tahun depan bisa seperti yang diantarnya hari ini. Satu tujuan “bisa naik haji”. Subhanallah.... erat hubungan antartetangga ini, bahkan antarkampung yang mungkin tak saling kenal.
Ya inilah tradisi, keluar dari pembicaraan bid’ah yang sering diberitakan sana-sini. Aku hanya kagum dengan gotong royong, saling memahami keadaan para tetangga, dan bahu-membahu tanpa disuruh. Semua ikhlas mencari berkah. Hal yang sudah jarang ditemukan di perkotaan yang serba individual.
Labbaikallahuma labbaik,
labbaikallah syarikalakallabaik....
Selamat beribadah Pakde dan Bude.
Semoga sehat selalu disana.
Semoga sampai tanah air dengan selamat.
Doakan kami semoga bisa menjadi tamu Allah. Aminnn...
Rabu, 16 Agustus 2017
#AgustusdanAnak-anak/Keluarga
#part1 #week3
#part1 #week3
#RumbelMenulisIIPBogor
KLIK :
#HobidanSaya #week1 #part1
#HobidanSaya #week1 #part2
#Mimpi #week2 #part1
#Mimpi #week2 #part2
#AgustusdanAnak-anak/Keluarga #week3 #part1
#AgustusdanAnak-anak/Keluarga #week3 #part2
#NikmatMingguIni #week4 #part1
#NikmatMingguIni#week4 #part2
#QuotesSaya #week5 #part1
#QuotesSaya #week5 #part2
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yuk, kunjungi challenge-challenge yang lain.
KLIK :
#HobidanSaya #week1 #part1
#HobidanSaya #week1 #part2
#Mimpi #week2 #part1
#Mimpi #week2 #part2
#AgustusdanAnak-anak/Keluarga #week3 #part1
#AgustusdanAnak-anak/Keluarga #week3 #part2
#NikmatMingguIni #week4 #part1
#NikmatMingguIni#week4 #part2
#QuotesSaya #week5 #part1
#QuotesSaya #week5 #part2

Komentar
Posting Komentar