Penanganan Benih Kedelai Hasil Introduksi Korea
Ringkasan
Introduksi varietas kedelai memegang peranan penting dalam sejarah perkembangan tanaman kedelai di Indonesia, namun pada umumnya tidak dapat dijadikan varietas unggul karena perbedaan panjang hari dan suhu antara negara asal dan Indonesia. Kedelai termasuk tanaman hari pendek dan pada umumnya peka terhadap perbedaan panjang hari, oleh karena itu perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. Daerah asal dan garis lintang hampir sama dengan di Indonesia.
Varietas yang di introduksi tidak peka terhadap panjang hari. Umur masak sesuai umur varietas kedelai Indonesia. Negara penghasil kedelai yang letak lintangnya hampir sama dengan Indonesia adalah Brazil, Kolumbia dan Meksiko. Dalam mengintroduksi kedelai dari luar negeri perlu dijaga agar tidak mengimport penyakit yang belum terdapat di Indonesia seperti: busuk batang coklat oleh cendawan, embun jelaga, becak daun, busuk batang dan akar, kulit biji becak ungu oleh cercospora kikuchii. Langkah pertama yang perlu di ambil dalam penerimaan benih introduksi adalah mengamati secara teliti kesehatan biji dan tanaman, tanaman yang memperlihatkan gejala penyakit harus dimusnahkan (Sumarno, 1985) begitu juga dengan media tanamnya.
Tujuan penanganan hasil benih introduksi Korea ini adalah untuk mengetahui dan memberikan informasi tentang karakteristik kedele introduksi Korea dan penangannya untuk mendapatkan benih yang bermutu baik, sehingga dapat di pergunakan untuk program pemuliaan dan pembetukan varietas unggul baru (VUB) Percobaan ini di laksanakan di KP PACET pada bulan Maret 2014. Sebanyak 72 nomor/varietas kedelai introduksi Korea ditanam di ember masing-masing ditanam 2 biji/ember dan untuk yang di lapang masing-masing ditanam 2 baris per nomor/varietas dengan ukuran plot 0,80 m x 3 m dan jarak tanam 40cmx15cm, tujuh hari setelah tanam dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang 2ton/ha, 75kg Urea, 150kg SP36 dan 100kg KCL.
Penyiangan dilakukan 14 HST dan 40 HST, penyemprotan dilakukan satu minggu sekali untuk mencegah hama dan penyakit. Parameter yang diamati meliputi: warna hipokotil, warna bunga, warna bulu dan warna biji, umur mulai berbunga dan umur masak 80%, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, berat 100 biji, berat sampel, bobot plot dan jumlah tanaman di panen.
Dari hasil karakteisasi kedelai introduksi Korea telah dimanfaatkan sebagai tetua betina untuk bahan induk persilangan dengan varietas unggul nasional yaitu B.4541, B.4545 DAN B.4621. Penggunaan varietas introduksi Korea pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan tujuan dan arah penelitian lebih lanjut .
KATA KUNCI : INTRODUKSI, KARAKTERISASI, KEDELAI
PENDAHULUAN
Kedelai (Glycine max) merupakan tananam kacang-kacangan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Meskipun bukan tanaman asli Indonesia, namun daerah produksinya menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Juga ditemukan varietas-varietas lokal yang telah beradaptasi cukup lama di daerah tertentu. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Badan Litbang Pertanian yang memiliki tugas dan fungsi melakukan penelitian bioteknologi dan pengelolaan sumberdaya genetik (SDG).
Untuk mengoptimalkan pengelolaan SDG yang dimiliki, BB Biogen dilengkapi dengan fasilitas Bank Gen sebagai tempat mengkoleksi dan menyimpan (mengkonservasi) materi sumber daya genetik (SDG) tanaman pertanian. Sampai saat ini BB Biogen telah mengkoleksi dan mengkonservasi lebih dari 11.000 aksesi plasma nutfah, yang mana diantaranya adalah plasma nutfah kedelai.
Kegiatan di Bank Gen meliputi eksplorasi (pencarian), inventarisasi (pengumpulan), identifikasi, karakterisasi, dokumentasi, dan evaluasi sumberdaya genetik (plasma nutfah) tanaman pertanian. Kegiatan tersebut sangat penting dilakukan untuk menyelamatkan sumber daya genetik yang dimiliki agar terhindar dari kepunahan karena sumberdaya genetik merupakan aset yang tidak ternilai. Apabila hal ini tidak diperhatikan oleh semua pihak yang terkait, dapat dipastikan plasma nutfah yang dimiliki, termasuk kedelai, akan mengalami kelangkaan atau hilang karena petani tidak bisa menanam kedelai akibat terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Maka dari itu, diperlukan cara penanganan yang tepat terhadap koleksi plasma nutfah kedelai baik lokal, galur-galur terpilih, varietas unggul maupun introduksi yang dimiliki, agar keberadaannya tetap terjaga.
Koleksi plasma nutfah yang lestari, khususnya kedelai, berfungsi sebagai sumber gen yang berguna program pemuliaan. Agar plasma nutfah dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan tujuan pemuliaannya, maka plasma nutfah yang dimiliki perlu diketahui sifat-sifatnya melalui kegiatan karakterisasi. Berdasarkan informasi yang diperoleh koleksi plasma nutfah kedelai bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pembentukan varietas unggul baru (VUB).
Plasma nutfah kedelai yang tersimpan di Bank Gen BB. Biogen terdiri atas aksesi lokal yang berasal dari daerah atau provinsi di Indonesia, hasil galur-galur terpilih dan introduksi (benih kedelai yang berasal dari negara lain) yang diperoleh melalui kerjasama antar negara. Koleksi plasma nutfah kedelai yang tersedia baik lokal maupun introduksi, telah dimanfaatkan secara intensif untuk kegiatan penelitian dan pemuliaan, dengan harapan bisa menghasilkan varietas unggul baru untuk menunjang kebutuhan kedelai secara nasional.
Penanganan benih kedelai yang dikoleksi dan tersimpan di Bank Gen merupakan serangkaian kegiatan yang memerlukan ketelitian dalam penanganannya, oleh karena itu judul makalah yang disajikan adalah “Penanganan Benih Kedelai Hasil Introduksi Korea”.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan memberikan informasi tentang karakteristik kedelai introduksi dari Korea serta penanganan hasil panen untuk mendapatkan benih kedelai bermutu baik agar bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama dengan kualitas benih yang dapat dipertahankan.
Tentunya dalam hal ini diperlukan teknik dan penanganan pasca panen yang tepat seperti setelah panen benih harus segera diproses yaitu dilakukan penjemuran, pengeringan (sampai mencapai kadar air 8-10%), pembijian serta sortasi. Sebelum benih disimpan, sebaiknya benih diuji daya kecambahnya untuk mengetahui daya kecambah awal.
Setelah disimpan dalam jangka waktu tertentu, benih diuji kembali daya kecambahnya. Data yang diperoleh dibandingkan dengan data awal, sehingga dapat diketahui apakah selama penyimpanan daya kecambah benih tetap sama, atau apakah telah terjadi penuruan daya kecambah.
Setelah proses pasca panen, selanjutnya benih disimpan dan diberi nomor registrasi dan memasukkan data stok dan lokasi penyimpanan ke dalam database plasma nutfah kedelai sehingga memudahkan pengguna untuk mendapatkan material yang diperlukan untuk bahan pemuliaan dan sebagai induk/tetua persilangan dalam pembuatan varietas unggul baru.
SIMPULAN
Dari 72 nomor kedelai inrtoduksi Korea yang ditanam telah diperoleh data sifat-sifat penting sebagai penciri dari nomor/ varietas yang bersangkutan berupa karakter morfologi (warna biji, warna hipokotil, warna bunga, warna bulu) dan karakter agronomi (umur, tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot 100 biji, hasil) dalam rangka mengindentifikasi sifat-sifat penting yang bernilai ekonomis.
Berdasarkan data hasil perolehan biji dari hasil 72 nomor kedelai introduksi korea yang ditanam terlihat beberapa nomor/varietas yang hasil bijinya < dari 100 g, dalam kondisi seperti ini masih perlu direjuvenasi/ditanam ulang untuk mendapatkan hasil biji > 300 g untuk memenuhi target jumlah benih di penyimpanan / stok seed. Benih yang telah diperoleh dibagi ke dalam beberapa kemasan dan dipacking dalam kantong aluminium foil untuk penyimpanan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.
Kegiatan ini dilakukan untuk menyelamatkan dan mempertahankan keberadaan koleksi plasma nutfah kedelai introduksi Korea agar dapat dimanfaatkan dalam upaya perbaikan varietas melalui persilangan untuk penciptakan varietas unggul baru (VUB).
SARAN
Dari 72 nomor koleksi plasma nutfah introduksi korea yang ditanam telah diperoleh data yang cukup membantu peneliti /pengguna dalam mendapatkan material penelitian. Disarankan untuk pertanaman berikutnya bisa ditambahkan data untuk mengidentifikasi kandungan senyawa gizi (protein, lemak) dan reaksinya terhadap cekaman biotik (ketahanan terhadap hama dan penyakit) dan abiotik (toleran naungan, kekeringan, lahan masam dan kadar garam tinggi). Kegiatan ini bisa dilakukan secara bertahap dan sistematis untuk mempermudah pemanfaatannya sehingga siap digunakan dalam program pemuliaan. Kegiatan berikut yang tak kalah pentingnya adalah melakukan pendokumentasian informasi data penting mengenai karakteristik plasma nutfah intoduksi Korea tersebut. Informasi tersebut harus disimpan dalam bentuk database yang dikelola dengan baik agar bisa diakses secara cepat, mudah dan akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Mulya, Karden. 2008. Laporan Hasil Penelitian Tahun 2008. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik
Somaatmaja, Sadikin. 1985. Peningkatan Produksi Kedelai Melalui Perakitan Varietas Baru dalam Kedelai. Bogor: Balittan Bogor.
Sumarno. 1985. Kedelai (Teknik Pemuliaan Kedelai). Bogor: Balitan Bogor
Sutoro dkk. 2010. Katalog Data Paspor Plasma Nutfah Tanaman Pangan, Edisi Kedua. Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik

Komentar
Posting Komentar