Pendidikan Kurikulum 2013 untuk Menuju Generasi Emas melalui PAILKEM
Pendidikan Kurikulum 2013 untuk
Menuju Generasi Emas melalui PAILKEM
Pendahuluan
Perkembangan zaman yang
semakin cepat membuat Indonesia pun
menyiapkan diri dalam menyambut era globalisasi percepatan perkembangan zaman
sesuai kebutuhan. Salah satu tugas pemerintah sesuai amanat pembukaan Undang
Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas ini dilakukan
oleh pemerintah dengan menyelenggarakan pendidikan mulai dari pendidikan dasar
hingga pendidikan tinggi. Menurut UU No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Dari definisi tersebut terlihat jelas bahwa pendidikan bertujuan untuk mengubah
pikiran dan perilaku individu untuk kehidupan lebih baik. Bagian tubuh manusia
yang bertanggung jawab untuk pikiran dan perilaku manusia adalah otak. Otak
manusia yang menentukan siapa dirinya, apa yang dikerjakannya dan merencanakan
masa depannya. Dengan demikian pendidikan berarti bertujuan mengubah otak
manusia.
Otak
manusia mempunyai potensi yang luar biasa dan tidak terbatas, namun seringkali
kita lupa menggunakan dengan baik apalagi merawatnya. Dengan otaknya manusia
bisa berkarya, bermain musik, mempelajari berbagai macam bahasa, berimaginasi
dan berpikir untuk kemajuan peradaban manusia
Pengetahuan
tentang otak sehat ini sangat penting dan diharapkan dapat membantu mengatasi
berbagai problem bangsa Indonesia seperti mengatasi korupsi, konflik antar
elemen masyarakat, kriminalitas termasuk dalam pengembangan pendidikan.
Dunia pendidikan Indonesia masih mempunyai beberapa masalah, diantaranya
masalah kurikulum, anggaran dan evaluasi pendidikan seperti polemik UAN. Selain
itu penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang belum menggunakan dan menerapakan
pengetahuan tentang otak manusia. Memang sudah ada yang menerapkan, namun
sangat terbatas sekali. Dikarenakan pendidikan adalah untuk mengubah otak, maka
dalam melaksanakan pendidikan kita tidak boleh sembarangan. Kita harus mendidik
berdasarkan sifat, fungsi dan mekanisme kerja otak. Kalau ada kesalahan
dalam melakukan pendidikan maka dapat berakibat tidak berhasilnya pendidikan
atau bahkan bisa merusak otak.
Otak adalah benda yang dinamis. Sifat otak ini dikenal dengan neuroplastisitas.
Otak bisa berubah berdasarkan lingkungannya. Lingkungan yang baik dan mendukung
dapat meningkatkan kemampuan otak. Sedangkan lingkungan yang tidak baik dapat
merusak otak.
Pembahasan
Ada setumpuk harapan
disandarkan kepada dunia pendidikan. Para orang tua selalu berharap bahwa
pendidikan akan dapat mencetak generasi yang berkarakter kuat.
Karakter-karakter yang menghasilkan orang-orang berintegritas tinggi di negeri
ini. Pendidikan pada hakikatnya adalah
perubahan perilaku. Mengikuti kerangka berpikir seperti ini, sudah
selayaknya proses pendidikan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku
sesuai harapan.
Perhatikan dengan saksama cuplikan
lirik lagu Pergi Sekolah karya Ibu Sud
....
Selamat
belajar Nak, penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati
gurumu sayangi temanmu,
Itulah
tandanya kau murid budiman
Kalau kita perhatikan
menurut cuplikan lagu tersebut, puncak capaian pendidikan adalah menjadi
pribadi budiman, menyayangi sesama, memiliki empati dan berkepedulian sosial
tinggi. Semakin berpretasi seseorang maka semakin berbudi orang tersebut.
Harapan-harapan itulah yang dicanangkan pada kurikulum 2013. Kurikulum yang
mengedepankan sikap-sikap religius dan sosial. Kurikulum yang menyajikan
penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap secara terpadu. Kurikulum yang
diharapkan akan mencetak hasil didikan yang berkarakter untuk menuju generasi
emas.
Sebagaimana telah ditekankan
oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan
daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,
karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No. 20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ...”
Penilaian pada kurikulum
2013 tidak hanya melihat sisi akademik siswa saja tetapi juga pembelajaran
nilai-nilai moral dan karakter siswa.
Pada level makro muncul keinginan kuat agar pendidikan nasional mampu
melahirkan generasi Indonesia yang jujur dan berdaya saing tinggi.
Kurikulum 2013 dirancang dengan
karakteristik sebagai berikut:
1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial,
rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan
psikomotorik;
2. sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar
terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat
dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya
dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;
4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan,
dan keterampilan;
5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih
lanjut dalam kompetensi dasar matapelajaran;
6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi
dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang
dinyatakan dalam kompetensi inti;
7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling
memperkuat (reinforced) dan
memperkaya (enriched) antarmatapelajaran
dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).
Sedangkan Tujuan Kurikulum 2013 adalah
untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai
pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan
afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan peradaban dunia.
Tingginya harapan masyarakat terhadap
dunia pendidikan agaknya dipicu oleh kenyataan tentang kesenjangan antara
harapan dengan kenyataan yang ada di lapangan. Harus diakui dalam berbagai aspek,
pendidikan di negeri ini mengalami kemajuan, bahkan pesat. Sarana dan prasarana
sekolah terus mengalami perbaikan. Peningkatan anggaran pendidikan jelas wujud
nyata dari tekad pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan.
Pemerintah dalam mencanangkan kurikulum
2013 ini, begitu gencar usahanya agar tercapai dan terwujud kurikulum ini
dengan baik. Usaha pemerintah di antaranya adalah mengadakan implementasi
pelatihan kurikulum 2013. Guru-guru secara bergantian dipanggil untuk mengikuti
pelatihan tersebut. Namun, berbagai kendala tetap ada. Diantaranya adalah:
a.
Faktor pemerintah
Pemerintah mengadakan pelatihan kurikulum 2013 melalui instruktur yang
dilatih sebelumnya. Namun, pemerintah tidak selektif memilih instruktur untuk
melatih guru-guru di lapangan. Masih ada instruktur yang belum paham tentang
cara kerja kurikulum 2013, akhirnya sampai kepada guru pun membingungkan dan
hasilnya guru membawa pelatihan tersebut dengan tanda besar di kepalanya.
b.
Faktor guru
Perubahan kurikulum 2013 ini masih dijadikan beban oleh sebagian guru.
Padahal sebenarnya kurikulum bukan berubah tetapi mengalami pengembangan. Pengembangan
Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis
Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Namun, masih
ada guru yang berpikiran kurikulum berubah. Masih ada sikap guru berat hati
dalam menjalankan perubahan kurikulum ini sehingga ia tidak sungguh-sungguh
dalam menjalankan tugasnya sebagai guru atau masih menggunakan cara lama dalam
mengajar di dalam kelas. Selain itu, ada juga guru yang masih kebingungan dan
kurang pengetahuannya tentang kurikulum 2013 walaupun sudah diberikan
pelatihan, akhinya cara mengajar model lama yang diterapkan di dalam kelas.
c.
Faktor siswa
Siswa sebenarnya sebagai fokus di sini, sebagai objek dari pendidikan
tetapi masih ada siswa yang tidak sadar terhadap kewajibannya. Dengan adanya
pendidikan 12 tahun siswa diberikan pendidikan secara gratis ditambah lagi
bantuan biaya operasional dengan adanya beasiswa-beasiswa seperti KJP,
Bidikmisi, BOS, BSM, dan sebagainya. Siswa tidak lagi direpotkan dengan urusan
biaya sekolah sepertu beberapa tahun yang lalu.
Namun, dengan kondisi seperti ini masih ada siswa yang kurang bersyukur,
masih ada siswa yang main-main dalam belajar, masih ada siswa yang terlibat tawuran,
masih ada siswa yang terpengaruh dengan narkoba, serta masih ada yang lainnya.
Ditambah lagi kondisi penilaian yang begitu
menguntungkan bagi siswa sehingga siswa kurang mempunyai daya juang terhadap
pelajaran yang dipelajarinya. Misalnya, kondisi di sekolah, pada kurikulum 2013
ada “istilah belajar tuntas” yaitu nilai minimal 75 dengan kategori B-. Siswa
seperti dipaksakan harus mencapai nilai 75 walau siswa itu tidak mampu, bila
belum mampu guru wajib meremedial sampai siswa tuntas. Namun, kembali bahwa
guru juga seorang manusia yang mempunyai keterbatasan, ketika menemukan siswa
yang telah diremedial berkali-kali tetap saja tidak mencapai nilai yang
diharapkan dan pihak sekolah menuntut siswa tuntas semua, maka terpaksa
memberikan nilai tuntas.
Apa yang terjadi akibat dari ini semua?
Siswa akan semakin main-main dalam belajar dan beranggapan bahwa ia tetap
naik kelas usaha maksimal dalam belajar.
d.
Faktor orang tua
Usaha pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan gratis ini ada yang
dimanfaatkan oleh beberapa orang tua dan ini bukan lagi rahasia bahkan menjadi
telah menjadi tren. Pemerintah berusaha mengembangkan kurikulum ke arah yang
lebih baik dan berusaha memberikan kesempatan kepada semua anak yang usia bersekolah untuk sekolah. Bagi
siswa yang tidak mampu diberikan bantuan beasiswa. Namun, ada beberapa orang
tua yang mencari kesempatan dalam hal ini dan setelah mendapatkan uang beasiswa
tetapi tidak digunakan untuk keperluaan pendidikan anaknya tetapi untuk
menafkahi biaya hidupnya. Bahkan, lebih parah lagi ada orang tua yang
memiskinkan keluarganya dengan membuat surat keterangan tidak mampu di
kelurahan agar mendapat beasiswa. Kondisi ini membuat mental orang tua dan
siswa rusak. Apakah tercapai
pendidikan menuju generasi emas?
Kalau kondisi orang tua seperti ini maka akan menghasilkan hasil didikan
yang malas dan manja.
Demikian kendala yang turut mempengaruhi pengembangan
pendidikan pada kurikulum 2013 ini. Kurikulum 2013 ini sebenarnya untuk
memperbaiki mental dan karakter siswa agar menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
Siswa diharapkan lebih jujur dalam mengerjakan ujian, lebih disiplin dan
tertib, budaya baca hinga budaya bersih diharapka tertanam dalam jiwa siswa
pada penerapan kurikulum 2013.
Pembangunan watak (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia
Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti dan berperilaku baik. Bangsa kita
ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat
kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik. Oleh
karena itu, ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah masyarakat,
sekolah, dan orang tua.
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam
pendidikan diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar menghasilkan
generasi emas yang diharapkan. Menurut Wena strategi
pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran
yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda [1].
Strategi
pembelajaran PAILKEM merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam
kegiatan pembelajaran. PAILKEM merupakan sinonim dari Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, dan Menarik. [2]
a. Pembelajaran yang Aktif
Konsep pembelajaran Aktif bukanlah tujuan dari kegiatan pembelajaran,
tetapi merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mengoptimalkan proses
pembelajaran. Aktif dalam strategi ini
adalah memosisikan guru sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang
kondusif atau sebagai fasilitator dalam belajar, sementara siswa sebagai
peserta belajar yang harus aktif.
Beberapa ciri dari pembelajaran yang aktif sebagaimana
dikemukakan dalam panduan pembelajaran model ALIS (Actife Learning in School,
2009) adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2)
pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata, (3) pembelajaran mendorong anak
untuk berpikir tingkat tinggi, (4) pembelajaran melayani gaya belajar anak yang
berbeda-beda, (5) pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksi multiarah
(siswa-guru), (6) pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai media atau sumber
belajar, (7) pembelajaran berpusat pada anak, (8) penataan lingkungan belajar
memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar, (9) guru memantau proses
belajar siswa, dan (10) guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja anak.
b. Pembelajaran yang Inovatif
Pembelajaran
inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada siswa. Proses
pembelajaran dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa agar belajar.
Pembelajaran aktif merupakan proses pembelajaran dimana seorang guru harus
dapat menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan juga mengemukakan gagasannya. Di samping aktif,
pembelajaran juga harus menyenangkan.
Pembelajaran
inovatif juga merupakan strategi pembelajaran yang mendorong aktifitas belajar.
Maksud inovatif disini adalah dalam kegiatan pembelajaran itu terjadi hal-hal
yang baru, bukan saja oleh guru sebagai fasilitator belajar, tetapi juga oleh
siswa yang sedang belajar. Guru juga tidak tergantung dari materi pembelajaran yang ada pada buku, tetapi dapat
mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan
dengan masalah yang sedang dipelajari siswa.
c. Pembelajaran yang Menggunakan Lingkungan
Lingkungan
merupakan sumber belajar yang paling efektif dan efisien serta tidak
membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Gredler (1986) menegaskan bahwa proses perubahan sikap dan tingkah laku itu
pada dasarnya berlangsung pada suatu lingkungan buatan (eksperimental) dan
sangat sedikit sekali bergantung pada situasi alami (kenyataan). Oleh karena
itu, lingkungan belajar yang mendukung dapat diciptakan, agar proses belajar
dapat berlangsung secara optimal.
Konsep
pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memberikan peluang yang sangat besar
kepada peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya, dan secara umum
konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan dapat meningkatkan motivasi
belajar dari peserta didik.
Strategi
pembelajaran yang menggunakan lingkungan adalah salah satu strategi yang
mendorong siswa agar belajar tidak tergantung dari apa yang dalam kitab
atau buku yang merupakan pegangan guru. Konsep pembelajaran ini berangkat dari
belajar kontekstual dengan lebih mengedepankan bahwa hal yang perlu dipelajari
terlebih dahulu oleh siswa adalah apa yang ada pada lingkungannya. Dengan
mengetahui lingkungan yang ada disekitarnya, maka kelak siswa setelah selesai
belajar, dia akan berusaha memanfaatkan lingkungan ini sebagai sumber daya yang
akan dikelolanya sebagai sumber yang dapat memberikan nilai tambah baginya.
Strategi pembelajaran yang menggunakan lingkungan adalah salah satu
strategi yang mendorong siswa agar belajar tidak tergantung dari apa yang dalam kitab atau
buku yang merupakan pegangan guru. Konsep pembelajaran ini berangkat dari
belajar kontekstual dengan lebih mengedepankan bahwa hal yang perlu dipelajari
terlebih dahulu oleh siswa adalah apa yang ada pada lingkungannya. Dengan
mengetahui lingkungan yang ada disekitarnya, maka kelak siswa setelah selesai
belajar, dia akan berusaha memanfaatkan lingkungan ini sebagai sumber daya yang
akan dikelolanya sebagai sumber yang dapat memberikan nilai tambah baginya.
d. Pembelajaran yang Kreatif
Pembelajaran yang kreatif adalah salah satu strategi pembelajaran yang
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Pembelajaran kreatif
ini pada dasarnya mengembangkan belahan otak kanan anak yang dalam teori
Hemosfir disebutkan bahwa belahan otak anak terdiri dari belahan kiri dan
belahan kanan. Belahan kiri sifatnya konvergen dengan ciri utamanya berpikir
linier dan teratur, sementara belahan otak kanan sifatnya difergen dengan ciri
utamanya berpikir konstruktif, kreatif, dan holistik. Kreatif juga dimaksudkan agar guru
menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat
kemampuan siswa.
Dinamika lingkungan kehidupan yang berkembang dinamis
dalam semua aspek menjadi tantangan bagi guru sebagai agen pembelajar sekaligus
agen perubahan karena seorang guru harus profesional, yaitu bagaimana guru
memerankan kedudukan dan fungsi profesionalnya untuk meningkaykan layanan
pendidikan. Tuntutan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang bermutu
semakin mendorong guru untuk kreatif menciptakan layanan pembelajaran yang
inovatif, berpusat pada siswa dan dilandasi nilai-nilai religi dan
kearifan lokal. Nilai-nilai religi dan kearifan lokal harus mnejadi “ruh” dan
pendukung kekuatan (support power) bagi guru untuk lebih memerankan
kedudukan dan fungsi profesionalnya serta meningkatkan layanan pendidikan yang
berkualitas.
e. Pembelajaran yang Efektif
Pembelajaran yang efektif adalah salah satu strategi pembelajaran yang
diterapkan guru dengan maksud untuk menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan.
Strategi pembelajaran yang efektif ini menghendaki agar siswa yang belajar
dimana dia telah membawa sejumlah potensi lalu dikembangkan melalui kompetensi
yang telah ditetapkan, dan dalam waktu tertentu kompetensi belajar dapat
dicapai siswa dengan baik atau tuntas. Segala pertimbangan dalam strategi ini menyangkut tujuan yang disusun
berdasarkan kemampuan siswa, pemilihan materi yang benar-benar menunjang
tujuan, penetapan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa, penggunaan
media yang pas serta evaluasi yang tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan,
pada akhirnya tetap terpulang pada bagaimana peran seorang guru dalam mengelola
proses pembelajaran.
Yusuf Hadi
Miarso (1993) memandang bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran
yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa (student
centered) melalui penggunaan prosedur yang tepat. Definisi ini mengandung
arti bahwa pembelajaran yang efektif terdapat dua hal penting, yaitu terjadinya
belajar pada siswa dan apa yang dilakukan oleh guru untuk membelajarkan
siswanya.
Suatu proses
belajar mengajar dapat dikatakan berhasil baik, jika kegiatan belajar mengajar
tersebut dapat membangkitkan proses belajar. Penentuan atau ukuran dari
pembelajaran yang efektif terletak pada hasilnya. Menurut Wotruba dan Wright
(1985) berdasarkan kajian dan hasil penelitian, mengidentifikasi 7 (tujuh)
indikator yang dapat menunjukkan pembelajaran yang efektif.
1. Pengorganisasian Materi yang Baik
Pengorganisasian
adalah bagaimana cara mengurutkan materi yang akan disampaikan secara logis dan
teratur, sehingga dapat terlihat kaitan yang jelas antara topik satu dengan
topik lainnya selama pertemuan berlangsung.
Faktor lain
yang perlu dipertimbangkan dalam penyajian materi adalah bagaimana kemampuan
daya serap peserta didik. Daya serap tersebut bertalian erat dengan motivasi
dan kesiapan belajar mereka.
Kesiapan
belajar individu ditentukan oleh penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari
sebe;umnya, keterampilan membaca dan mendengar tingkat pendidikan yang telah
dicapai, dan tingkat kesulitan materi. Pengorganisasian materi juga mencakup
faktor penunjang lainnya yang digunakan selama proses penyajian. Faktor
penunjang tersebut antara lain, yaitu penggunaan media, sikap, gerak-gerik
mengajar, dan cepat lambat penyajian.
2. Komunikasi yang Efektif
Kecakapan
dalam penyajian materi termasuk pemakaian media dan alat bantu atau teknik lain
untuk menarik perhatian siswa, merupakan salah satu karakteristik pembelajaran
yang baik. Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran mencakup penyajian yang
jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh,
kemampuan wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi), dan kemampuan untuk
mendengar.
Kemampuan
berkomunikasi tidak hanya diwujudkan melalui penjelasan secara verbal, tetapi
dapat juga berupa makalah yang ditulis, rencana pembelajaran yang jelas dan
mudah dimengerti.
Jenis
komunikasi lain yang sangat penting adalah komunikasi interpersonal. Bagi
seorang guru, membangun suasana hangat dengan para siswa dan antara sesama
siswa sangatlah penting. Suasana saling menerima, saling percaya akan
meningkatkan efektivitas komunikasi.
3. Penguasaan dan
Antusiasme terhadap Materi Pelajaran
Seorang guru
dituntut untuk menguasai materi pelajaran dengan benar, jika telah menguasainya
maka materi dapat diorganisasikan secara sistematis dan logis. Penguasaan kan
materi saja tidak cukup, penguasaan itu pula harus diiringi dengan kemauan dan
semangat untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para siswa.
4. Sikap Positif terhadap Siswa
Sikap
positif dapat ditunjukkan baik dalam kelas kecil maupun kelas besar. Dalam
kelas kecil ditunjukkan dengan cara memberikan perhatian pada orang per orang,
sedangkan dalam kelas besar diberikannya kepada kelompok yang mengalami
kesulitan. Bantuan kepada para siswa diberikan apabila mereka sudah berusaha
sendiri.
5. Pemberian Nilai
yang Adil
Keadilan
dalam pemberian nilai tercermin dari adanya:
1. Kesesuaian
soal test dengan materi yang diajarkan merupakan salah satu tolak ukur
keadilan;
2. Sikap
konsisten terhadap pencapaian tujuan pembelajaran;
3. Usaha yang
dilakukan siswa untuk mencapai tujuan;
4. Kejujuran
siswa dalam memperoleh nilai;
5. Pemberian
umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa;
6. Keluwesan dalam
Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan
yang luwes dalam pembelajaran dapat tercermin dengan adanya kesempatan waktu
yang berbeda diberikan kepada siswa yang memang mempunyai kemampuan yang
berbeda. Kepada siswa yang mempunyai kemampuan yang rendah diberikan kesempatan
untuk memperoleh tambahan waktu dalam kegiatan remedial. Sebaliknya kepada
siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata diberikan kegiatan pertanyaan.
Dengan demikian, siswa memperoleh pelayanan yang sesuai dengan kemampuan
mereka.
7. Hasil
Pembelajaran Siswa yang Baik
Indikator
pembelajaran efektif dapat diketahui dari hasil belajar siswa yang baik.
Petunjuk keberhasilan belajar siswa dapat dilihat bahwa siswa tersebut
menguasai materi pelajaran yang diberikan.
Pembelajaran
yang efektif adalah salah satu strategi pembelajaran yang diterapkan guru
dengan maksud untuk menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan. Strategi
pembelajaran yang efektif ini menghendaki agar siswa yang belajar dimana dia
telah membawa sejumlah potensi lalu dikembangkan melalui kompetensi yang telah
ditetapkan, dan dalam waktu tertentu kompetensi belajar dapat dicapai siswa
dengan baik atau tuntas.
f. Pembelajaran yang Menarik
Muara dari strategi yang digunakan dalam pembelajaran adalah bagaimana
proses pembelajaran itu bisa berjalan dengan baik dan menarik bagi siswa yang
belajar.
Pembelajaran
yang menarik lebih pada variabel hasil belajar. Ada 3 indikator yang masuk
dalam variabel hasil belajar, yakni:
1. Keefektifan
yang diukur dengan presentase yang diperoleh siswa berdasarkan tujuan yang
telah ditetapkan
2. Efisiensi
yang diukur dengan keberhasilan yang dicapai tidak terlalu memikirkan waktu dan
biaya yang terlalu besar
3. Menarik yang
diukur dengan makin tinggi keefektifan pembelajaran
Dalam
merancang teknik mengajar, aktivitas-aktivitas yang dipilih perlu mempunyai
urutan yang baik. Ia perlu diselaraskan dengan isi kemahiran dan objektif
pembelajaran. Penggunaan kaidah dan teknik yang bervariasi akan menjadikan
sesuatu pembelajaran itu menarik dan akan memberi ruang untuk membolehkan
pelajar terlibat secara aktif sepanjang sesi pembelajaran tanpa merasa jemu dan
bosan.
Dalam
pembelajaran, terdapat beberapa kaidah dan teknik yang berkesan boleh digunakan
oleh guru. Dari segi penggunaan teknik, guru boleh menggunakan apa saja teknik
yang dipikirkan, misalnya teknik menerangkan, teknik mengkaji, teknik
penyelesaian masalah dengan cara yang mudah, dan teknik bercerita.
Muara dari
strategi yang digunakan dalam pembelajaran adalah bagaimana proses pembelajaran
itu bisa berjalan dengan baik dan menarik bagi siswa yang belajar.
Inti dari
strategi pembelajaran yang menarik terletak pada bagaimana memberikan pelayanan
kepada siswa sebab posisi siswa jika diibaratkan dalam sebuah perusahaan, maka
siswa merupakan pelanggan yang perlu dilayani dengan baik.
Strategi pembelajaran PAILKEM ini sangat sesuai untuk
kurikulum 2013 yang menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran discovery learning, problem based learning, dan
project based learning. Strategi
PAILKEM ini adalah salah usaha untuk menuju generasi emas pada tahun 2045.
Penutup
Usaha pendidikan
yang bertujuan untuk mengubah pikiran dan perilaku individu untuk kehidupan
lebih baik yaitu mengubah otak manusia dapat terwujud melalui pengembangan kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 ini berusaha untuk menjawab permasalahan bangsa seperti
mengatasi korupsi, konflik antarelemen masyarakat, dan kriminalitas.
Pengembangan kurikulum 2013 ini adalah
usaha agar dapat mencetak generasi mendatang yang lebih religius, jujur, toleransi,
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab.
Pembenahan
kurikulum 2013 harus tetap dilanjutkan melalui implementasi pelatihan kurikulum
2013 pada guru-guru secara terus-menerus. Selain itu, pemerintah juga harus lebih
selektif untuk memberikan beasiswa kepada siswa. Bahkan, program pendidikan
gratis pada siswa harus ditinjau ulang lagi karena banyak kondisi yang tidak
relevan, misalnya sekolah yang hampir mayoritas siswanya dari keluarga mampu
dan berada. Apakah kondisi sekolah seperti ini pantas diberikan pendidikan
gratis?
Strategi
pembelajaran PAILKEM cocok dan sesuai dengan kurikulum 2013 yang menerapkan
pendekatan saintifik dan model pembelajaran discovery
learning, problem based learning dan project
based learning untuk menuju generasi emas di tahun 2045.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber buku:
Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan
Nasional. 2010. Pendidikan Karakter
(Kumpulan Pengalaman Inspiratif). Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional
Mohamad,
Nurdin dan Hamzah B. Uno. 2011. Belajar dengan Pendekatan
Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik . Jakarta:
Bumi Aksara
Uno,
Hamzah B. 2011. Belajar dengan Pendekatan Pembelajaran PAILKEM : PT.
Bumi Aksara, Jakarta, 2011
Wena,
Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif
Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.
Sumber makalah:
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan
Kebudayaan dan
Penjaminan Mutu Pendidikan. 2014. Rasional
Kurikulum 2013. Jakarta : Kementerian
Pendidikan dan
Kebudayaan
Sumber
internet:
http://husinsaputra.wordpress.com/2014/01/05/inovasi-belajar-dengan-pendekatan-pailkem
[1]
Made Wena, Strategi Pembelajaran
Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. (Jakarta: Bumi Aksara, 2011),
hlm. 5
[2]
Nurdin
Mohamad dan Hamzah B. Uno, Belajar dengan Pendekatan Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Lingkungan,
Kreatif, Efektif, Menarik( Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 10-16.
Komentar
Posting Komentar